My Profil

MENGENAL OBAT LEBIH DEKAT: Label, Penggolongan dan Dosis Obat

Pada kesempatan ini saya akan memposting beberapa hal yang perlu diketahui tentang obat dipasaran, baik itu label obat, penggolongan obat, cara penyimpanan obat, pemesanan obat sampai pada perhitungan dosis obat. Gimana tertarik..?? Tertarik ga tertarik tetep wajib baca...!! Untuk lebih jelasnya silahkan baca sampai akhir....!!!


Label Obat berisi:
  • Nama dagang / generik
  • Nama , alamat pabrik
  • Komposisi
  • Aturan pakai
  • No. registrasi: contoh : Depkes RI : DTL 123456789012 ( 15 digit )
  • No.batch / kode produksi
  • Expired date / kadaluwarsa
Penggolongan Obat Menurut Undang-Undang
  • Narkotika (obat bius atau daftar O = opium), dapat menimbulkan ketagihan harus dg pengawasan dokter, contoh: candu, opium, morfin
  • Psikotropika (obat berbahaya), memengaruhi proses mental, contoh:ekstasi, diazepam, barbital.
  • Obat Keras (daftar G = Geverlijk = berbahaya) adalah obat yang memiliki dosis maksimum atau terdaftar sebagai obat keras, diberi tanda khusus berupa lingkaran merah dengan hurup K, semua obat baru, dan seidaan parenteral.
  • Obat bebas terbatas (daftar W = waarschuwing = peringatan), dengan lingkaran berwarna biru serta diberikan tanda peringatan.
  • Obat bebas, yaitu dapat dibeli secara bebas dan tidak membahayakan dengan tanda lingkaran berwana hijau.
Label Obat Daftar W

Penyimpanan Obat
  • Ruang penyimpanan : aman (bebas serangga), sirkulasi udara baik, suhu (sejuk), terhindar dari matahari
  • Tata ruang : mudah bergerak 
  • Tersedia palet, rak, almari khusus, almari pendingin 
  • Alat pemadam kebakaran 
  • Penumpukan (kerusakan fisik)
Kebersihan ruangan
  • Semua obat harus disimpan dengan baik dalam wadah dan tutup yg memenuhi syarat 
  • Label jelas, nama obat dapat dibaca dengan jelas 
  • Obat tanpa etiket/label dan diragukan isinya lebih baik dibuang 
  • Simpan obat sesuai petunjuk pd label (ditempat sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung)
Penyusunan Obat
  • Prinsip FIFO ; FEFO 
  • Obat kemasan besar diletakkan di palet 
  • Obat kemasan kecil disusun di rak 
  • Narkotik-psikotropik di almari khusus 
  • Vaksin, suppositoria di almari pendingin 
  • Disusun dan dikelompokan berdasarkan bentuk sediaan obat (syrup, tablet, obat luar, alkes habis pakai, alat kontrasepsi) 
  • Disusun secara alphabetis 
  • Cantumkan nama obat pada kartu stok, letakkan dekat bahan obatnya 
  • Obat expired date dipisahkan tersendiri
Pengamatan Mutu
  • Tablet: perubahan warna, bau , rasa, lembab 
  • Tablet salut: pecah, lengket, rusak 
  • Kapsul: lengket, terbuka, perubahan warna pada cangkang 
  • Salep: berubah warna, bintik2, wadah rusak, perubahan bau (tengik) 
  • Cairan: berubah warna,perubahan kekentalan 
  • Injeksi: warna berubah, endapan keruh, wadah rusak, bocor 
  • Pengujian laboratorium
Pemberian Obat
  • 4T1W: Tepat (obat, dosis, sasaran, manfaat), 
  • Waspada (efek samping) Etiket: nama pasien, tanggal, no, aturan pakai, instruksi lainnya 
  • Pastikan sendok yg digunakan: sendok teh (Cth) : 5 cc, sendok makan (C) : 15 cc 
  • Berikan penjelasan kepada pasien tentang: cara pemakaian/minum obat, kegunaan obat, penyimpanan serta kemungkinan efek samping obat.
Pencatatan dan Pelaporan
  • Sarana Pencatatan dan Pelaporan 
  • Kartu stok 
  • Mengetahui ketersediaan obat, 
  • Mengetahui kekosongan/kelebihan obat 
  • Mengetahui trend penggunaan obat 
  •  Sebagai alat untuk pelaporan 
  • Catatan harian pemakaian/pengeluaran obat 
  • Lembar pemakaian dan lembar permintaan obat (LPLPO) 
  • Daftar obat rusak/kadaluarsa
Pemesanan Obat
  • Hitung kebutuhan obat rata2 / bulan 
  • Catat frekuensi pengiriman 
  • Tentukan faktor pemesanan ulang 
  •  3 bila dikirim perbulan 
  • 5 bila dikirim setiap 2 bulan 
  • 7 bila dikirim setiap 3 bulan 
  • 9 bila dikirim setiap 4 bulan 
    Contoh : kebutuhan amoksilin tiap bulan: 3 botol bila pemesanan dikirim tiap 3 bulan → faktor pemesanan 7, jadi jumlah pemesanan ulang: 3x7 = 21 botol
Dosis Obat
  • Dosis obat: jumlah obat yang diberikan kepada penderita
Macam dosis:
  • Dosis dalam satuan berat (gram, mg, mikrogram)
  • Dosis dalam satuan isi (ml)
  • Dosis dalam satuan unit (International Unit)
Macam Dosis:
  • Dosis medicinalis = dosis terapeutik = dosis lazim 
  • Dosis permulaan = initial dose 
  • Dosis pemeliharaan = maintenance dose 
  • Dosis toxica = dosis sampai terjadi keracunan 
  • Dosis letalis = dosis sampai terjadi kematian
Dosis Maksimum
  • DM: dosis tertinggi yang relatif masih aman (dewasa) 
  • DM prn: dosis boleh melebihi kalau diperlukan dokter→memakai tanda seru (1 – 2 mg!) 
  • DM untuk anak: dihitung khusus
Dosis Anak
  • Dosis anak idealnya berdasarkan BB atau LPT (luas permukaan tubuh) 
  • Diperhitungkan dengan DD (dosis dewasa) dengan menggunakan rumus:
Dosis Anak Berdasar Umur
  • Rumus Young: { n / (n + 12)} x DD 
  • Rumus Dilling: ( n / 20 ) x DD 
  • Rumus Cowlling: { (n+1) / 24 } x DD 
  • Rumus Fried: ( m / 150) x DD 
    Keterangan: n = tahun, m = bulan, DD=dosis dewasa 
Dosis Anak Berdasar BB
  • Rumus Clark: ( BB / 70 ) x DD 
  • Rumus Augeberger: { (1½ BB+10) / 100 } x DD 
    Keterangan: BB = BB anak dalam Kg 
Dosis Khusus
  • Dosis penderita yang obesitas: harus diperhitungkan lemak dan persentase BB tanpa lemak (BBTL)
  • BBTL = BB x (100 - % lemak)
Dosis penderita geriatrik (>65 tahun)
  • Dosis diturunkan ( ± 75 % DD) 
  • Perubahan fisiologis dan patologis diperhatikan (cardivaskuler, ginjal, DM)
Dosis penderita ginjal:
  • Ekskresi obat terganggu → obat lebih lama di peredarah darah 
  • Dosis dan interval obat harus diatur
Dosis dari Vial / Ampul:
  • Berapa cc harus dihisap untuk mendapatkan dosis penicillin 150.000 IU dari vial penicillin yang berlabel 600.000 IU/cc? 
  • Rumus: dosis diket / dosis tanya = cc diket / cc tanya 
  • 600.000/150.000 = 1cc/xcc 
  • X = 0,25 cc
Dosis Tetesan Infus
  • Infus dewasa (makro) 1 cc = 20 tetes, infus anak (mikro) 1cc = 60 tetes (atau ditentukan lain 
  • Rumus: cc/jam → cc/menit → tts/menit 
  • Berapa tetes menit harus diberikan pada: bayi 200/3 jam serta dewasa 1500 cc/6jam?
Persen Dalam Obat Campuran
  • Persen b/b → untuk bahan padat/padat Contoh: Salisilat talk 10% 
  • Persen v/v → untuk bahan cair/cair Contoh: Alkohol 70% Persen b/v → untuk obat suntik Contoh: Morphin HCl 1% 
  • Persen v/b → untuk cairan – minyak/obat asli Contoh: salep, cream

Share this post!
Facebook Delicious Digg! Twitter Linkedin StumbleUpon
Technorati Google Bookmarks Mixx Yahoo! Newsvine Reddit

Artikel Terkait:

1 komentar:

GG said...

:0

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

Silahkan beri komentar + smiley dengan cara memasukkan kode smileynya NO SPAM...!!! Hatur nuhun sebelumnya..